Sebenarnya Berapa Lama Umur Pembangkit Listrik?

Pernahkah kamu menebak kira-kira berapa lama umur sebuah pembangkit listrik bisa bertahan? Lalu, apa yang terjadi ketika pembangkit listrik itu semakin menua?

 

Pertanyaan-pertanyaan menarik ini akan kami ulas secara perlahan dalam artikel ini.

 

Perlu diketahui, masing-masing pembangkit ini memiliki struktur komponen berbeda satu sama lain, disesuaikan dengan sumber dayanya. Baik itu air, surya, angin, nuklir dan lain sebagainya.

 

Khususnya, komponen utama seperti turbin (untuk mengubah daya menjadi energi mekanik). Semisal antara pembangkit uap (PLTU) dan turbin pembangkit gas (PLTG).

 

Turbin uap berputar mengikuti arus yang disebabkan oleh uap air panas dan bekerja pada suhu antara 500 dan 650 derjat Celcius. Sementara turbin gas di sisi lain langsung berputar di gas pembakaran panas dengan suhu hingga 1500 derajat Celcius, gas-gas ini jauh lebih panas dibandingkan dengan turbin uap.

 

Dari gambaran di atas, bisa kita lihat turbin-turbin ini memiliki tekanan yang berbeda. Ada yang mengalami tekanannya yang sangat tinggi hingga yang sangat rendah.

 

Besaran tekanan inilah yang menjadi faktor panjang-pendeknya umur pembangkit listrik.

 

Berurutan dari pembangkit listrik dengan potensi umur terlama, ialah pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sistem hidro memiliki umur yang paling panjang, dan masih beroperasi efisien di usinya 50 tahun.

 

Bahkan di Skotlandia, PLTA tertua di berumur lebih dari 100 tahun. Hal ini dikarenakan bagian mesin pembangkit ini mengalami tekanan relatif rendah dan sangat stabil tanpa perubahan beban yang tiba-tiba. Selama dirawat, PLTA bisa berumur sangat panjang.

 

Dilanjutkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Awalnya, stasiun nuklir hanya sanggup berumur 30 tahun. Kemudian berkembang inovasi baru, hingga mampu mendesain stasiun yang lebih baru dan mampu tetap beroperasi hingga 40-60 tahun.

 

Setelah itu, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Pembangkit ini hanya memerlukan sedikit perawatan. Dengan begitu usia pengoperasiaannya bisa lebih dari 50 tahun.

 

Lalu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batu bara. Menurut Energy Information Administration (EIA), pembangkit ini mampu bertahan setidaknya 30 tahun, dan maksimal 40 tahun.

 

Dari sana, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mampu beroperasi 25-30 tahun. Meski begitu, PLTS lebih berumur panjang dibanding pembangkit listrik tenaga angin yang hanya beroperasi maksimal 25 tahun.

 

Pasalnya, beban ekstrim yang mereka alami sepanjang hidup mereka. Semakin meningkat kecepatan angin, begitu pula dengan beban turbin. Bahkan angin ini dapat mencapai hampir 100 kali lebih besar daripada beban desain pada kecepatan angin terukur.

 

Sumber:

  1. https://kraftwerkforschung.info/en/quickinfo/basic-concepts/the-difference-between-steam-and-gas-turbines/
  2. https://www.renewablesfirst.co.uk/hydropower/hydropower-learning-centre/how-long-will-hydropower-systems-last/
  3. https://www.familyhandyman.com/project/5-things-to-know-about-a-geothermal-heat-pump/
  4. https://qz.com/61423/coal-fired-power-plants-near-retirement/amp/
  5. https://www.twi-global.com/technical-knowledge/faqs/how-long-do-wind-turbines-last
  6. https://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=34172
  7. https://www.uxc.com/p/products/rpt_smo.aspx

Leave a Comment

Close
Maximize
Page:
...
/
0
Please Wait
...
Second
Code: