Tegangan 3 Fasa: Keunggulan, Rumus, Cara Hitung

PLN menyediakan listrik tegangan 3 fasa dan listrik 1 fase. Tipe yang pertama digunakan untuk memasok tenaga ke industri besar, perkantoran, gedung, dan bangunan lain dengan daya besar. Listrik PLN di jalanan juga memiliki daya besar, namun hanya 1 fase yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk.

Soalnya, kebanyakan peralatan dan benda elektronik di rumah tidak menyedot banyak listrik selayaknya konsumsi instalasi skala besar. Listrik 1 fase pas untuk memberi tenaga sebesar 220-240 volt. Akan tetapi, yang akan dibedah sama-sama kali ini yaitu tentang listrik 3 fase.

Untuk mengawali ini semua, ketahui dulu rumus perhitungan tentang pengeluaran listrik 3 fase. Jadi bisa tahu berapa besar tagihan rutin yang perlu dikeluarkan dibayarkan nantinya. Bagaimana cara menghitungnya?

Yuk, langsung perhatikan penjelasan lengkapnya di bawah ini

Apa Itu Tegangan 3 Fasa?

Apa Itu Tegangan 3 Fasa

 

Listrik ini merupakan perkembangan dari listrik 1 fase. Disebut menjadi 3 fase, dikarenakan menggunakan 3 gelombang sinusoidal. Masing-masing gelombang memiliki sudut yang berbeda-beda sebesar 120 derajat.

PLN menjadi pihak yang menyalurkan listrik 3 fase di Indonesia. Listrik tersebut digunakan untuk menyuplai Jaringan Tegangan Rendah (JTR), pembangkit listrik dan masih banyak lagi.

Biasanya, listrik 3 fase diberikan ke industri atau rumah yang memerlukan daya lebih dari 3500VA. Kemudian, daya dialirkan melalui empat penghantar yang telah diinstal. Adapun empat penghantar tersebut terdiri dari 1 netral dan 3 penghantar phase.

Kelebihan Menggunakan Listrik 3 Phase

Kelebihan Menggunakan Listrik 3 Phase

Untuk industri, gedung atau bangunan yang membutuhkan daya listrik besar, ada beberapa keunggulan menggunakan tegangan 3 fasa. Selain memberikan listrik yang lebih besar untuk memenuhi konsumsi peralatan pada bangunan tersebut, dengan menggunakan listrik ini, kabel yang digunakan bisa lebih kecil.

Sebab, listrik 3 fasa identik dengan tegangan tinggi. Akan tetapi, aliran arus akan bergerak secara rendah, namun pada daya yang stabil. Kabel yang kecil pun memungkinkan penataan menjadi lebih rapi dan ringkas.

Hubungan Bintang (Y, wye)

Pada tegangan 3 fasa, terdapat hubungan bintang atau disimbolkan dengan Y atau wye. Hubungan ini pada dasarnya adalah ketika setiap ujung fasa bertemu di satu titik, dan terbentuk menjadi titik bintang atau titik netral.

Hubungan Bintang (Y, wye)

Seperti gambar di atas, tertera bahwa magnitude berasal dari tegangan yang dihasilkan terminal dua dari tiga yang ada. Ini akan menimbulkan perbedaan fasa pada titik netral. Yang disebut sebagai tegangan fase pada contoh ini adalah tegangan Va, Vb dan Fc.

Untuk perhitungan rumus arus dengan nilai stabil pada fase yang tidak sama, digunakan rumus berikut ini:

I Line = I Fase
Ia = Ib = Ic

Hubungan Segitiga

Hubungan segitiga atau delta merupakan hubungan apabila ketiga fase saling dihubungkan. Hubungan tegangan 3 fasa yang dilambangkan dengan Δ ini memiliki besaran magnitude yang sama.

Hubungan Segitiga

Hal ini dikarenakan tidak adanya titik netral. Sehingga, tegangan saluran dihitung antar fase. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

V Line =  V Fase

Sedangkan jika arus fasa tidak searah, formula perhitungan yang bisa digunakan berasal dari hukum kirchoff berikut:

I Line = √3IFase = 1,73 I Fase

Rumus dan Cara Menghitung Besaran Listrik 3 Fasa

Perhitungan daya listrik ini memang sedikit kompleks untuk orang awam. Apabila memahami dasar-dasar kelistrikan, seharusnya bisa memahami rumus ini dengan mudah. Adapun berikut adalah rumus yang bisa digunakan dalam menghitung besaran listrik 3 fasa:

P= V x l x Cos Phi x √3

Keterangan rumus:

  • P (Power) yaitu daya dalam satuan Watt
  • V (Voltage) yaitu tegangan dalam satuan Volt
  • I yaitu arus atau intensitas tegangan dalam satuan Ampere
  • Cos Phi yaitu faktor daya

Contoh Perhitungan Besaran Tegangan 3 Phase

Contoh Perhitungan Besaran Tegangan 3 Phase

Coba terlebih dulu pahami komponen rumus di atas. Untuk memudahkan pemahaman, berikut disediakan contoh soal cerita terkait perhitungan listrik 3 fasa, jadi Sahabat bisa langsung memanfaatkan rumus diatas untuk menghitung besaran yang terpakai.

Soal Cerita

Suatu industri menggunakan listrik 3 fasa dengan detail arus listrik (I) yaitu 50 ampere untuk setiap fasa dan tegangan (V) sebesar 400 volt. Instalasi ini mempunyai cos phi yang terukur sebesar 0,75. Lantas, berapa daya (P) yang digunakan instalasi ini?

Jawaban

P= V x I x cos phi x √3

P= 400 x 50 x 0,75 x 1,73

P= 25.950 Watt

Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa industri tersebut memiliki instalasi yang menggunakan listrik 3 fasa sebesar 25.950 Watt.

Kesimpulan

Apabila membutuhkan daya lebih besar dibandingkan sistem listrik 1 fasa, maka listrik 3 fasa bisa menjadi solusi yang lebih baik. Karakteristik dari sistem ini adalah menggunakan kabel kecil, dan komponen penghantarnya ada empat bagian.

Untuk alasan keamanan, arus bertekanan tinggi dari sistem 3 fasa ini akhirnya dialirkan pada rangkaian yang lebih rendah.

Penutup

Biasanya, sistem tegangan 3 fasa tidak membutuhkan kapasitor lagi. Soalnya, daya yang dialirkan sudah cukup besar. Dengan menggunakan listrik ini, tentunya lebih efektif untuk menyuplai energi pada komponen kelistrikan yang membutuhkan daya besar.

Leave a Comment

Close
Maximize
Page:
...
/
0
Please Wait
...
Second
Code: