Apa Jadinya Jika Indonesia Memiliki Pembangkit Nuklir? – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Nuklir – Apakah sahabat tahu bagaimana jadinya jika Indonesia memiliki pembangkit nuklir?

Apa yang ada dibenak sahabat ketika pertama kali mendengar pembangkit listrik Nuklir..?

  • Bahaya ledakan / isu keamanan
  • Bahaya limbah beracun radioaktif serta radiasi yang dihasilkan
  • Tidak mendukung solusi energi hijau ramah lingkungan
  • Sudah mulai ditinggalkan banyak negara
  • Ketersediaan energi primernya / uranium
  • Indonesia berada di jalur tumbukan lempeng tektonik / ring of fire yang artinya rawan terhadap letusan gunung berapi dan terjadinya gempa.

Tapi apakah benar seperti itu?

Ok mari kita jawab, tetapi sebelumnya kita harus mengenal terlebih dahulu Pusat Listrik Tenaga Nuklir.

Prinsip Kerja Pusat Listrik Tenaga Nuklir

Pusat Listrik Tenaga Nuklir / PLTN, prinsip kerjanya hampir sama dengan Pusat Listrik Tenaga Uap / PLTU yang ada pada sistem pembangkit listrik di indonesia, yang membedakan yaitu sumber panas yang digunakan. jika pada PLTU uap yang didapat pada boiler dari hasil proses pembakaran batu bara / minyak, pada PLTN uap tersebut didapat dari proses reaksi nuklir seperti uranium, plutonium atau thorium.

Sebagai perbandingan bahwa satu kg uranium dalam reaksi nuklir akan menghasilkan energi tiga juta lebih banyak dibandingkan dengan satu kg batu bara.

Pada umumnya terdapat dua proses reaksi pada pembangkit nuklir, yaitu reaksi fisi dimana dalam menghasilkan panas, inti atom bermasa berat / nukleus berat pada uranium menyerap sebuah neutron sehingga terpecah menjadi dua atau lebih nuclei bermasa ringan sambil melepaskan energi ikatannya.

Berkebalikan dari reaksi Fisi, pada reaksi fusi inti bermasa ringan / nuclei bergabung dalam rangka melepaskan kelebihan energi ikatannya.

Jenis -Jenis Reaktor Nuklir

Reaktor nuklir adalah alat yang digunakan untuk mengendalikan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap dan menggunakan materi nuklir sebagai bahan bakarnya. Berikut beberapa contoh reaktor nuklir yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik seperti:

  • Yang pertama yaitu Pressurized Water Reactor / (PWR): masuk dalam reaktor generasi ke 2. Reaktor ini terdiri dari dua aliran fluida yang dipasang seri, yaitu aliran fluida pendingin yang disebut primary loop dan aliran fluida uap-air yang disebut working fluid. Pendingin mengambil panas reaktor dan memindahkannya ke fluida kerja pada pembangkit uap untuk selanjutnya memutar turbin yang seporos ddengan generator. Proses uap ini menggunakan siklus rankine untuk pembangkit tenaga listriknya.
  • Yang kedua Boiling Water Reactor / (BWR): masuk dalam reaktor generasi ke 3. Dalam BWR, Air pendingin bersinggungan langsung dengan panas yang dihasilkan bahan bakar nuklir sehingga menyebabkan air berubah fase menjadi uap superheat. Uap superheat inilah yang digunakan untuk memutar turbin.
  • Yang keempat High Temp Gas Cooled Reactor / (HGTR): pada HGTR Menggunakan karbon dioksida atau helium sebagai media pendingin inti reaktor. Panas yang dibawa dari inti reaktor tersebut kemudian di transfer ke steam generator untuk menghasilkan uap.

Selain itu terdapat enam tipe reaktor daya yang direkomendasikan pada reaktor generasi ke IV seperti Very High Temperature Reactor (VHTR), Sodium-cooled Fast Reactor (SFR), Gas-cooled Fast Reactor (GFR), Liquid metal cooled Fast Reactor (LFR), Molten Salt Reactor (MSR), dan Super Critical Water-cooled Reactor (SCWR).

Perkembangan Teknologi Nuklir

Teknologi nuklir telah banyak mengalami perkembangan, yang mana sekarang telah mencapai generasi ke IV. Pada generasi ini fokus utama pengembangannya terletak pada aspek keberlanjutan (sustainability), ekonomi (economic) serta keselamatan dan kehandalan ( safey & reliability). Menjawab permasalahan / isu yang ada seperti:

1. Bahaya ledakan yang dihasilkan / isu keamanan?

Dapat dilihat pada grafik kematian per terawat hours, yang disebabkan karena proses produksi, dan dampak polusi, PLTN berada pada nilai yang paling rendah dibandingkan dengan tipe pembangkit lainnya, bisa dibilang paling aman.

Pada teknologi nuklir generasi ke IV menganut asas inherent safety. Dimana sistem keamanan dan desain proses produksi terintegrasi, dengan prinsip2 diantaranya:

  • Membuat proses modular, lebih kecil sehingga lebih aman
  • Antara keamanan dan proses menjadi satu
  • Membuat proses sesederhana mungkin
  • sistem keselamatan sebisa mungkin tidak mengandalkan manusia.

 

2. Bahaya limbah beracun radioactive serta radiasi yang dihasilkan?

Jika kita lihat dari tabel bahwa kuantitas limbah nuklir sangat kecil dibandingkan dengan limbah lainnya. 3 tolak ukur utama dari isu limbah yaitu volume, cantain dan manage, yang mana dalam mengelola bahan bakar uranium, dari proses penambangan hingga menjadi limbah dengan volume yang sangat kecil tersebut dilakukan dengan sangat hati2, sehingga nuklir tidak ada isu terkait limbah berbahaya. Inherent safety yang diterapkan reaktor generasi ke IV ini juga minim limbah daur ulang.

 

3. Tidak mendukung solusi energi hijau ramah lingkungan?

 

 

Dari total 36.1% pembangkit dengan energi bersih di dunia, nuklir masuk di peringkat ke 3 setelah pembangkit panas bumi dengan nilai 2 g-CO2 / kWh, yang berarti zero carbon emition energi nuclear adalah No.3 terbesar setelah Geothermal Power.

 

4. Mulai banyak ditinggalkan banyak negara?

Menurut data Internasional Atomic Association (IAEA) pada 2013 terdapat 437 unit reaktor daya yang beroperasi di 30 negara dengan total kapasitas terpasang sebesar 373,209 MWe dan Jika kita melihat pada grafik yang ada maka PLTN merupakan pembangkit yang terus tumbuh dan dikembangkan. Bahkan pada 2019 menjadi rekor tertinggi pertumbuhannya. Nuklir masih tumbuh 2-3% dari total energi mix dan saat ini meningkat terus.

 

5. Ketersediaan energi primernya / uranium?

Dari hasil pemetaan cadangan uranium yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Geologi Nuklir (PPGN) – Batan, Indonesia memiliki cadangan uranium sebesar 70,000 ton. Dari 70,000 ton uranium tersebut, 1,608 ton kategori terukur, 6,456 ton kategori terindikasi, 2,648 ton tereka dan sisanya masuk dalam kategori hipotetik.

Pusat Listrik Tenaga Nuklir tipe PWR dengan kapasitas 1000 MWe dalam waktu satu tahun operasi membutuhkan uranium sebanyak 244,68 ton. Berdasarkan cadangan uranium terukur sebesar 1,608 ton dapat memasok 1 buah unit PLTN selama 6 tahun, yang artinya pada tahun ke 7 harus mulai mengimpor uranium untuk memenuhi kebutuhan operasi reaktor atau sejak awal sudah melakukan eksplorasi atau investigasi lanjutan agar cadangan terukur uranium meningkat.

 

6. Indonesia berada di jalur tumbukan lempeng tektonik / ring of fire dimana rawan terhadap letusan gunung berapi dan terjadinya gempa?

Dalam pembuatan Laporan Analisis Keselamatan (LAK) untuk pembangunan PLTN, selalu ada analisis potensi kebencanaan yang mungkin dapat terjadi. Analisis ini dilakukan dengan mengacu pada data historis kejadian kebencanaan ratusan tahun ke belakang.

Lokasi yang digunakan pada dasarnya memang dicari yang bebas atau minim potensi gempa. Dua dekade silam, Jepara dipilih sebagai calon tapak PLTN pertama Indonesia karena potensi gempa yang relatif rendah. Selain Jepara, kawasan lain yang saat ini telah dianggap layak sebagai lokasi pembangunan PLTN adalah Bangka Belitung dan Kalimantan, yang mana keduanya relatif bebas dari potensi kebencanaan geologis.

Pembangunan PLTN selain didasarkan pertimbangan aspek teknologi dan keselamatan, tentunya perlu mempertimbangkan aspek lainnya seperti aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Berdasar aspek sosial, rencana pembangunan tersebut dapat dimaknai berbeda-beda di dalam masyarakat berdasar tingkat pengetahuan dan persepsi masing-masing.

Kemudian isu lainnya yang perlu menjadi perhatian seperti kompetensi Sumber Daya Manusia di Indonesia, dan proses penambangan yang tentunya memiliki dampak bagi lingkungan.

Ok, bagaimana pendapat sahabat, perlukah Indonesia mengembangkan PLTN, dan apa jadinya jika Indonesia memiliki PLTN, silahkan jawab di kolom komentar. Trimakasih sudah membaca, sampai bertemu di artikel berikutya

 Referensi


Tulisan terkait :

2 thoughts on “Apa Jadinya Jika Indonesia Memiliki Pembangkit Nuklir? – Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)”

  1. Sebaiknya kita memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir 2000 MW
    Kita jangan mau disesatkan dgn berita berita negatipnya, negara maju sengaja menghembuskan itu supaya merekalah yg menikmatinya, coba bagai mana manfaat nuklir, untuk listrik, tenaga kapal selam, mobil batere perlu dicharge butuh pasokkan listrik yg banyak

    Reply
  2. PLTN sangat efisien dan dapat memicu warga kita makin kreatif dg memperhatikan lingkungan, efisiensi, dan keselamatan. Karbon hampir zero dan biaya bahan bakar nuklir sangat rendah membuat harga juga sangat stabil tapi ramah lingkungan melawan pemanasan global.

    Reply

Leave a Comment