Jenis-Jenis Pembebanan pada Pembangkit Listrik

Tahukah kamu, pembangkit-pembangkit listrik yang ada memiliki perannya masing-masing dalam sistem listrik nasional? Baik itu pembangkit tenaga uap, air, diesel dan lain sebagainya.

PLN sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK), memiliki kewajiban menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum, baik rumah tangga, industri maupun fasilitas pelayanan publik.

PLN memiliki pegangan yang disebut “kurva beban”. Beban yang dimaksud adalah jumlah arus listrik yang disalurkan pada konsumen. Sementara kurva beban, sederhananya merupakan penggunaan beban (listrik) dalam suatu waktu.

Kurva beban ini akan dicatat, yang digunakan sebagai bahan untuk memprediksi kurva beban pada waktu mendatang. Tujuannya, agar baik PLN dan masyarakat tidak merugi. Maksudnya?

PLN akan merugi bila ternyata daya yang dibangkitkan jauh lebih besar dibanding kebutuhan yang dipakai masyarakat sebenarnya. Karena PLN membutuhkan bahan bakar setiap kali pengoperasian pembangkit listrik, terutama pembangkit listrik berbahan fosil.

Sementara, masyarakat akan merugi, jika daya yang dibangkitkan lebih kecil dibanding yang dibutuhkan. Sebab akan terjadi pemadaman sementara sampai pasokan daya ditambah. Pemadaman ini dilakukan guna mempertahankan kestabilan sistem listrik.

Kurva beban sendiri dikelompokkan menjadi tiga beban. Yaitu beban dasar (base load), beban menengah (intermediate load) dan beban puncak (peak load).

Beban dasar adalah tingkat kebutuhan listrik minimum yang dibutuhkan selama 24 jam. Selanjutnya beban menengah ialah tingkat kebutuhan listrik menengah yang dibutuhkan dalam sehari. Hingga beban puncak, saat kebutuhan listrik tinggi-tingginya.

Dari pengelompokkan beban ini, juga diatur jenis-jenis pembangkit listrik yang dinyalakan tiap waktunya.

Dimulai dari pembangkit listrik base load, dinyalakan ketika kebutuhan masyarakat di tingkat minimum (dasar). Ciri-ciri jenis pembangkit base load ini yakni berskala besar, menghasilkan daya yang konstan, cost bahan bakarnya murah dan waktu menyalakan (stand by)-nya relatif lama.

Jenis pembangkit base load ini umumnya adalah pembangkit listrik tenaga uap, yang bahan bakarnya batu bara. Atau pembangkit listrik tenaga nuklir, panas bumi serta biomassa.

Biasanya, beban dasar ini 30-40% dari beban maksimum.

Ketika melebihi beban dasar, maka memasuki beban menengah. Sistem energi terbarukan, seperti matahari dan angin, paling cocok untuk pembangkit listrik beban menengah.

Keduanya adalah sumber energi yang karakternya internmiten (tidak konstan), dengan output tergantung kondisi cuaca dan musim.

Pembangkit listrik puncak (peak load) biasanya dikaitkan dengan sistem yang dapat dengan mudah dihentikan dan dimulai. Kemungkinannya adalah gas alam dan minyak bumi.

Pembangkit listrik puncak sifanya, mudah dihentikan dan dimulai. Selain itu, seringkali beban puncak hanya berlangsung dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Rata-rata permintaan daya listrik bervariasi dari hari ke hari, mencapai maksimum selama jam kerja siang hari dan turun ke minimum selama larut malam dan dini hari.

Sumber:
1. https://www.e-education.psu.edu/eme807/node/667
2. https://sinovoltaics.com/learning-center/basics/base-load-peak-load/
3. https://web.pln.co.id/tentang-kami/profil-perusahaan
4. https://watergius.wordpress.com/2011/03/02/kurva-beban-dan-alasan-memiliki-beragam-pembangkit/

 


Tulisan terkait :

Leave a Comment