Saluran Transmisi pada sistem tenaga listrik merupakan media yang digunakan untuk mentransmisikan energi listrik dari pusat tenaga listrik hingga ke sistem distribusi. Pada sistem transmisi, energi listrik yang disalurkan berjarak cukup jauh, Itu mengapa tegangan yang ditransmisikan dinaikkan ke tegangan ekstra tinggi 500 kV atau tegangan tinggi 150 kV untuk mengurangi rugi-rugi daya pada saat energi tersebut dihantarkan.

Untuk memahami lebih dalam tentang sistem transmisi ada baiknya kita mengenal bagian-bagian utama dari saluran transmisi tersebut yang meliputi:

Konduktor

konduktor

Konduktor adalah media untuk tempat mengalirkan energi listrik dari pusat pembangkit ke Gardu Induk. Konduktor ini harus memiliki sifat-sifat konduktivitas yang tinggi, kekuatan Tarik mekanikal yang tinggi, titik berat, biaya rendah, dan tidak mudah patah. Jenis konduktor yang dipakai pada umumnya tembaga, alumunium & baja.

Isolator

Isolator pada sistem transmisi tenaga listrik berfungsi untuk mencegah adanya aliran arus listrik dari konduktor melalui tiang menara / memisahkan bagian yang bertegangan dengan yang tidak bertegangan. Pada sistem transmisi isolator yang digunakan biasanya menggunakan isolator rantai, yang terdiri dari kepingan dielektrik yang saling dipisahkan oleh konduktor, sehingga dianggap sebagai sebuah kapasitor karena terdiri dari susunan konduktor-dielektrik-konduktor. Menurut bahan yang digunakan isolator yang digunakan biasanya berbahan keramik atau kaca. Dimana kedua bahan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk detil pembahasan tentang isolator dapat dibaca pada link dibawah ini

Menara Transmisi

Menara transmisi

Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran transmisi yang bisa berupa Menara baja /  tiang baja. Konstruksi tower besi baja merupakan jenis konstruksi saluran transmisi tegangan tinggi (SUTT) ataupun saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang paling banyak digunakan di jaringan PLN, karena mudah dirakit terutama untuk pemasangan di daerah pegunungan dan jauh dari jalan raya, pemeliharaan yang mudah serta harganya yang terbilang lebih murah jika dibandingkan dengan saluran bawa tanah.

Grounding System (Power Line currier) / PLC

sistem pentanahan

Kawat tanah atau grounding wires juga disebut kawat pelindung shield wires digunakan sebagai pelindung penghantar atau kawat phase terhadap sambaran petir. Sistem pentanahan ini dipasang diatas kawat fasa. Pada umumnya kawat pelindung ini berbahan baja yang lebih murah tetapi tidak jarang dignakan ACSR

Sistem Transmisi Tenaga Listrik di Indonesia

Prinsip kerja sistem transmisi yaitu tegangan keluaran dari transformator pembangkit listrik dinaikkan menggunakan transformator step up, pada umumnya tegangan generator < 50 kV, tegangan tersebut dinaikkan ke tegangan tinggi 150 KV atau tegangan ekstra tinggi 500KV. Tegangan tersebut disalurkan sepanjang saluran transmisi yang berjarak raturan kilometer membentang dari barat ke timur dan sebaliknya. Tegangan kemudian diturunkan ke tegangan menengah 20 KV pada Gardu Induk untuk selanjutnya didistribusikan ke konsumen.

Di Indonesia sistem transmisi yang ada dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). untuk penyaluran atau transmisi pada sistem interkoneksi Jawa-Bali, unit induk PLN yang menanganinya terbagi menjadi 3 unit induk untuk penyaluran dan satu unit induk untuk pengaturan beban. Unit induk penyaluran yaitu,

  1. PLN Transmisi Jawa Bagian Barat (TJBB), yang menangani penyaluran di Banten dan Jakarta bertempat di Cawang, Jakarta
  2. PLN Transmisi Jawa Bagian Tengah (TJBT), yang menangani penyaluran di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta bertempat di Bandung, Jawa Barat
  3. PLN Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (TJBTB), yang menangani penyaluran di Jawa Timur dan Bali bertempat di Sidoarjo, Jawa Timur

sedangkan untuk unit induk pengaturan beban oleh PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa Bali (P2B JB) yang berfungsi untuk mengatur beban Jawa Bali, berpusat di Gandul, Jakarta yang biasa disebut Jawa Bali Control Center (JCC) yang dibawahnya terbagi dalam lima regional Area Pengaturan Beban (APB) meliputi:

  1. PLN Area Pengaturan Beban Jakarta dan Banten, berkedudukan di Cawang, Jakarta (Region Control Center / RCC Cawang)
  2. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Barat, berkedudukan di Bandung (Region Control Center / RCC Cigereleng)
  3. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Tengah dan DIY, berkedudukan di Semarang (Region Control Center / RCC Ungaran)
  4. PLN Area Pengaturan Beban Jawa Timur, berkedudukan di Sidoarjo (Region Control Center / RCC Waru)
  5. PLN Area Pengaturan Beban Bali, berkedudukan di Denpasar (Region Control Center / RCC Bali)