Saluran distribusi pada sistem tenaga listrik berfungsi untuk menyalurkan energi listrik langsung ke konsumen. Saluran Distribusi dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem distribusi primer, dimana tegangan tinggi 150 KV diturunkan tegangannya di Gardu Induk menjadi tegangan  menengah 20 KV yang biasa disebut JTM (Jaringan Tegangan Menengah) dan sistem distribusi sekunder yaitu jaringan distribusi dari gardu distribusi untuk disalurkan ke pelanggan dengan klasifikasi tegangan rendah 220 V / 380 V  atau dikenal dengan JTR (Jaringan Tegangan Rendah). Urutan penyaluran energi listrik dari pembangkit hingga sampai ke konsumen meliputi Pusat listrik –> SUTET (GITET) –> SUTT (GI) –> JTM –> JTR.

Untuk memahami lebih dalam tentang sistem Distribusi ada baiknya kita mengenal bagian-bagian utama dari saluran distribusi yang meliputi:

Gardu Induk (GI)

sistem distribusi

Gardu Induk adalah stasiun transmisi bisa diibaratkan sebagai stasiun atau terminal dalam transportasi listrik, dimana fungsi utamanya yaitu mentransformasikan tegangan. Beberapa fungsi penting dari Gardu Induk pada saluran distribusi meliputi:

  • Mentrasnformasikan tegangan (menaikkan atau menurunkan tegangan, sebagai contoh dari tegangan generator di pembangkitan dinaikkan ke tegangan ekstra tinggi, atau menurunkan tegangan, dari tegangan ekstra tinggi diturunkan menjadi tengan tinggi atau tegangan menengah).
  • Mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi ke saluran transmisi lainnya kemudian mendistribusikan ke konsumen.
  • Pengukur, pengawas operasi serta pengaman sistem tenaga listrik.
  • Pengaturan pelayanan beban ke gardu induklain dan ke gardu distribusi.
  • Sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi.
  • Sarana telekomunikasi.

Kompartemen utama pada Gardu Induk meliputi transformator, pemutus tenaga (PMT), pemisah (PMS), lightning arrester, trafo arus, relay proteksi dan trafo pemakaian sendiri (PS)

Gardu Distribusi

Gardu distribusi adalah komponen penting dalam penyaluran pada sistem distribusi tenaga listrik yang berfungsi untuk menurunkan tegangan dari tegangan menengah ke tegangan rendah untuk disalurkan dan digunakan oleh pelanggan. Di dalam gardu distribusi terdapat beberapa peralatan listrik seperti panel hubung bagi (PHB) TM, panel hubung bagi (PHB) TR, dan transformator distribusi (20 kV/ 380 V). Secara garis besar gardi distribusi dibagi ke dalam beberapa jenis menurut pemasangan konstruksi dan penggunaannya.

Menurut pemasangannya gardu distribusi dibagi menjadi gardu pasangan dalam (gardu beton / tembok) dan pasangan luar (gardu portal/gardu cantol). Menurut penggunaannya ada gardu penggunaan umum (pelanggan listrik dengan tegangan rendah) dan gardu penggunaan khusus (untuk satu pelanggan listrik dengan tegangan menengah).

Gardu hubung

Jaringan distribusi tenaga listrik yang biasa disalurkan oleh penyulang – penyulang dari gardi induk ke gardu distribusi bukan tidak mungkin mengalami gangguan. Untuk menangani gangguan yagn menyebabkan tidak tersalurkan listrik pada gardu distribusi, maka dibuatlah gardu hubung yang menghubungkan penyulang-penyulang dan gardu distribusi untuk maneuver pengendali beban jika terjadi gangguan listrik.

Gardu hubung atau switching substation adalah gardu yang berfungsi sebagai sarana manuver pengendali beban listrik jika terjadi gangguan aliran listrik, program pelaksanaan pemeliharaan atau dengan maksud untuk mempertahankan kontinuitas pelayanan.

Gardu hubung terdiri dari rangkaian saklar beban (Load Break Switch / LBS), dan atau pemutus tenaga terhubung parallel. Gardu Hubung juga dapat dilengkapi sarana pemutus tenaga pembatas beban pelanggan khusus tegangan menengah. Konstukti gardu hubung sama dengan konstruk gardu distribusi tipe beton. Pada ruang dalam gardu hubung dapat dilengkapi dengan ruang untuk gardu distribusi yang terpisah dan ruang untuk sarana pelayanan control jarak jauh.

Konfigurasi jaringan primer

Konfigurasi jaringan primer pada suatu sistem jaringan distribusi sangat menentukan mutu pelayanan yang akan diperoleh khususnya mengenai kotinyuitas pelayanannya. Adapun jenis jaringan primer yang biasa digunanakan adalah jaringan distribusi pola radial, pola loop, pola grid dan pola spindle.

Jaringan distribusi primer (tegangan menengah) dan juga jaringan distribusi sekunder (tegangan rendah) pada umumnya beroperasi secara radial. Jaringan dengan sistem ring (loop) sesungguhnya bisa mengurangi rugi-rugi dalam jarigan, tetapi memerlukan alat sistem proteksi yang lebih canggih dan juga relative mahal untuk jaringan distribusi.

Secara umum baik buruknya sistem penyaluran dan distribusi tenaga listrik terutama adalah ditinjau dari kontinuitas pelayanan, kualitas daya, perluasan dan penyebaran, fleksibilitas, kondisi dan dituasi lingkungan, serta pertimbangan ekonomis.

Pusat pengatur saluran distribusi

Kegiatan operasi jaringan pada saluran distribusi untuk suatu Kawasan tertentu dikordinir oleh pusat pengatur distribusi. Pusat pengatur distribusi terutama mengkoordinir operasi Jaringan tegangan  menengah. Sedangkan untuk jaringan tegangan rendah termasuk sambungan rumah dan instalasi pelanggan, operasinya sebagian besar meliputi pekerjaan mengatasi gangguan, pelaksanaannya dilakukan oleh dinas gangguan yang tempatnya tersebar diberbagai tempat. Dikarenakan jaringan distribusi jangkauannya luas serta melibatkan banyak peralatan jika dibandingkan jaringan transmisi, sedangkan persoalanan operasionil terutama adalah mengatasi gangguan, maka pusat pengatur distribusi dibantu oleh dinas gangguan beserta mobil unit yang bergerak untuk mengatasi gangguan dalam jaringan atas perintah dan petunjuk pusat pengatur distribusi.

Disamping berfungsi untuk mengatasi gangguan, pusat pengatur pada saluran distribusi juga harus mengamati masalah masalah operasionil lainnya yang terjadi dalam sistem operasi seperti:

  • Analisa gangguan yang terjadi didalam sistem
  • Mengkoordinir pekerjaan pemeliharaan dalam jaringan agar sedapat mungkin dicegah terjadinya pemadaman aliran listrik bagi pelanggan.
  • Mengamati dan manganalisa perkembangan beban dalam setiap bagian jaringan distribusi agar dapat memberikan masukan yang tepat bagi perencanaan pengembangan jaringan distribusi.
  • Mengamati dan menganalisa profil tegangan jaringan untuk selanjutnya memberikan saran-saran perbaikan.
  • Mengamati dan menganalisa rugi-rugi yang terjadi dalam jaringan distribusi untuk kemudian melakukan langkah-langkah operasi agar rugi-rugi dapat dikurangi, misalnya melakukan manuver dalam jaringan.