Sebesar Ini Listrik yang Dipakai Google untuk Hidupi Data Center

Data Center adalah infrastruktur maha penting bagi perusahaan yang core bisnisnya adalah big data, termasuk Google. Dengan trafficnya yang luar biasa, bisa dibayangkan betapa data center harus bekerja keras nonstop, 24 jam tanpa jeda, dan pastinya tidak boleh down. Bagi perusahaan internet, down beberapa menit saja bisa menimbulkan kerugian besar sekali contohnya yang dialami Facebook beberapa waktu lalu.

Facebook beserta WhatsApp dan Instagram sempat tidak bisa diakses selama 6 jam di beberapa negara. Standar Media Index pun memperkirakan Facebook kehilangan sekitar US$545 ribu atau setara Rp7,7 miliar per jam selama gangguan itu terjadi. Itu baru Facebook, bayangkan jika terjadi pada Google yang menjadi mesin pencari utama di hampir seluruh dunia

Nah tidak heran Google berusaha keras menjaga suplai listrik di seluruh data centernya. Namun apakah sahabat tahu, seberapa besar energi listrik yang dibutuhkan, bagaimana google mengelola energi listrik agar lebih efisien, dan apa  pembangkit listrik yang digunakan untuk menyuplai energi data center di 4 benua tsb, yuk kita simak ulasannya

Baca juga:

Apa Itu Data Center ?

Data Center atau Pusat data adalah fasilitas yang digunakan perusahaan internet untuk menyediakan layanan mereka. Google juga memiliki data center untuk menyimpan seluruh data yang anda akses di platform mereka mulai dari pencarian di search engine, video yang ditonton di YouTube hingga email dan Gdrive.

Seperti kebanyakan mesin pencari, Google mengindeks dokumen dengan membangun struktur data yang dikenal sebagai indeks terbalik . Indeks ini sangat besar karena jumlah dokumen yang disimpan di server diperoleh dari pencarian yang dilakukan di search engine. Jadi bisa dibayangkan se-crowded apa lalu lintas di dalam network data center Google. Berapa besar daya yang dibutuhkan untuk mesin server tetap menyala.

Komponen Utama pada Data Center

Dilansir dari Wikipedia, data center Google, ada beberapa komponen inti yang mereka miliki di data center yaitu :

1. Hard-drive Room

Ruangan ini luasnya sekitar 35 ribu meter persegi berisi tumpukan hard-drive dengan kapasitas yang luar biasa besarnya. Ini merupakan tempat file yang kamu cari di google search enginee dan youtube berada.

2. Ruang Rak (Rack Space)

Setiap data center memiliki ribuan server yang biasanya ditata dalam rak sehingga lebih efisien. Jutaan drive Google ditandai dengan LED biru pertanda server berjalan lancar. Google memakai LED karena lebih hemat energi dengan nyala lebih cerah.

3. Internal and external networking

Google memiliki Network room yang berisi router dan switches saling terhubung dengan data center, yang tentunya membutuhkan suplai energi listrik yang sangat besar.

4. Environmental controls (cooling and humidification control)

Dengan ribuan perangkat elektronik yang menghasilkan panas tentunya server rawan overheat sehingga cooling control sangat diperlukan. Google menggunakan air yang dialirkan pipa-pipa di dalam network room untuk menjaga kestabilan suhu. Contohnya pada data center di Oregon, pipa biru untuk memasok air dingin sedangkan pipa merah mengembalikan air hangat untuk dapat didinginkan. Google juga memakai trik manual dengan memasang tirai plastik untuk menahan suhu dingin agar tidak keluar ruangan.

5. Operations software (load balancing and fault tolerance)

Pusat data ini menyediakan tingkat toleransi kesalahan dan redundansi tertinggi. Komponen berkapasitas redundan dan beberapa jalur distribusi independen memungkinkan pemeliharaan bersamaan sehingga setiap komponen dapat dilepas atau diganti tanpa mengganggu layanan end user atau menyebabkan down.

Selain kelima komponen tersebut, mayoritas data center juga memiliki sistem pencegah kebakaran, generator cadangan dan paling penting adalah sistem suplai daya listrik termasuk penyediaan UPS.  Tidak sembarang UPS, tim engineer Google sendiri merancang UPS super untuk backup data center mereka. UPS itu disebut sebagai “highly efficient server-level power supply” dengan baterai terpadu yang akan men switching data dari data center langsung ke server cabinet.

Suplai Listrik Data Center Google

Menurut sebuah laporan, seluruh industri pusat data menggunakan lebih dari 90 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahun. Ini adalah output yang setara dengan sekitar 34 pembangkit listrik tenaga batu bara. Apalagi dengan semakin tingginya tingkat konsumsi internet oleh masyarakat sejak pandemi maka semakin tinggi juga energi yang akan digunakan.

Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa pada tahun 2025, pusat data akan mengkonsumsi 1/5 dari pasokan listrik dunia. Sebagian besar permintaan energi berasal dari menyalakan server. Ironisnya, server yang terus menyala akan menghasilkan panas sehingga perlu didinginkan. Pendinginan ini lagi-lagi membutuhkan banyak energi dan menghasilkan banyak panas berlebih. Tidak heran kini pelaku industri big data mulai mengembangkan sistem pensuplai listrik yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Google, sudah menggunakan energi ramah lingkungan untuk menyuplai listrik data centernya. Energi ramah lingkungan tersebut dapat menurunkan temperatur hingga 26,6 C dengan cara menggunakan udara luar sebagai pendinginnya, dan membangun server khusus sehingga konsumsi energinya jauh lebih hemat dibandingkan data center pada umumnya. Google juga menggunakan sistem kecerdasan buatan untuk kontrol pendingin pada data centernya sehingga dapat mengurangi overhead hingga 11% .

Google mengklaim data center mereka paling hemat energi melalui laporan PUE.

PUE atau  Power Usage Effectiveness adalah pengukuran total konsumsi daya data center yang dibagi dengan nilai energi yang digunakan. Data center paling efisien adalah yang menghasilkan PUE mendekati 1.0. Itu artinya, 1 kWH energi listrik yang masuk ke dalam data center adalah benar 1 kWH pula yang digunakan oleh perangkat di dalamnya.

Google melaporkan hanya mengkonsumsi PUE sebesar 1.1 di kuartal pertama 2021. Angka tersebut sudah mencakup seluruh data center di dunia milik Google yang beroperasi stabil di segala musim.

Tahun 2020 Google dengan bangga mengumumkan capaian mereka dalam menggunakan energi terbarukan di empat benua yaitu pengoperasian pusat data di negara Belgia dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, pusat data di negara Chile dengan pembangkit listrik tenaga surya, pusat data di seluruh negara bagian Amerika Serikat dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya dan angin skala besar dan di negara singapura dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya.

Kesimpulan

Dengan banyaknya data center yang ada di dunia, dan besarnya daya yang digunakan tentunya menyumbang emisi yang besar. Polusi berupa emisi karbon dioksida sebesar lebih dari 70 juta ton disumbang hanya dari data center saja.

Untuk membersihkan polusi itu diperlukan sekitar dua miliar pohon, sehingga pengoptimalan energi terbarukan sangat penting. Google sudah berhasil mempertahankan penggunaan energi terbarukan selama 4 tahun berturut-turut dan berambisi akan sepenuhnya mengandalkan energi bebas karbon selama 24 jam di seluruh operasionalnya pada 2030 mendatang.

 

 

 

Leave a Comment

Close
Maximize
Page:
...
/
0
Please Wait
...
Second
Code: