Indonesia Ambisi Rajai Baterai Kendaraan Listrik Dunia, Mungkinkah?

Kendaraan listrik perlahan tapi pasti akan menjadi masa depan dunia. Kendaraan pribadi dan transportasi umum yang ditenagai listrik masih terus dikampanyekan untuk mencegah perubahan iklim akibat emisi karbon buangan dari bahan bakar fosil.

Dengan semakin banyaknya kendaraan listrik maka akan meningkatkan permintaan terhadap komponen penunjangnya, salah satunya adalah baterai. Sebab baterai adalah jantung bagi kendaraan listrik. Proyeksi akan meningkatnya permintaan pasar terhadap baterai inilah yang mendorong pemerintah Indonesia ingin ikut ambil bagian. Hal ini tidak terlepas dari cadangan nikel yang ada di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah percaya diri Indonesia bisa menjadi pemain besar sebagai produsen baterai kendaraan listrik dunia.

Seberapa besar kemungkinan itu dan bagaimana Indonesia akan mewujudkannya?

Sekilas Baterai Kendaraan Listrik

Untuk membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) maka akan dibutuhkan penunjang yang memadai yaitu stasiun pengisian baterai yang terjangkau dan ketersediaan baterai itu sendiri.

Baterai mobil listrik tersusun dari beberapa bagian dan material yang beragam. Dalam satu rangkaian baterai terdiri dari puluhan modul yang masing-masingnya ratusan sel baterai. Setiap sel baterai terdiri dari empat bagian yaitu lapisan anoda, katoda, separator dan elektrolit.

Pada baterai lithium-ion, anoda terbuat dari grafit (karbon). Sedangkan katoda terbuat dari elemen kimia lithium disertai material nikel, kobalt dan mangan. Baterai jenis ini juga biasa dijumpai pada perangkat elektronik seperti baterai handphone dan laptop. Namun patut diketahui bahwa nikel bukan satu-satunya bahan baku utama baterai kendaraan listrik yaitu berbasis fero atau besi.

NMC battery adalah baterai kendaraan listrik berbasis nikel-mangan-kobalt yang akan dikembangkan oleh Indonesia. Baterai ini cepat panas sehingga biasanya dibenami temperature management untuk mendinginkan baterai. Keunggulannya adalah  energi yang disimpan di baterai berbasis nikel besar sehingga jarak tempuh kendaraan lebih panjang.

LFP battery terbuat dari bijih besi dan fosfat yang dikembangkan oleh Tiongkok. Mayoritas produsen motor listrik di Indonesia dan bus listrik yang beroperasi di Jakarta menggunakan jenis baterai ini. Keunggulan baterai LPF adalah tidak gampang meledak dan tidak menggelembung saat bocor atau rusak. Kekurangannya adalah bobot baterainya lebih berat karena energy density-nya tidak setinggi nikel.

Target Indonesia membangun pabrik baterai EV

Nikel adalah material yang menjadi incaran Indonesia. Pasalnya, saat ini Indonesia sedang berbangga diri lantaran menjadi pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Inilah yang kemudian menjadi patokan bagi Indonesia untuk membangun industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) skala raksasa. Selain nikel, negeri ini juga masih memiliki cadangan mangan yang cukup besar dan sedikit kobalt.

Namun, Indonesia tidak memiliki lithium yang merupakan komponen utama baterai selain nikel. Ini bisa menyebabkan pemerintah harus melakukan impor. Meski begitu komposisi nikel tetap paling dominan yaitu 80 persen. Sisa 20 persen bahan logam lainnya diimpor. Pemerintah pun telah memitigasi kendala ini dengan melakukan rencana jangka panjang mengurangi impor.

Roadmap produksi baterai EV

Pada Januari 2023 ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menargetkan Indonesia dapat menjadi top produsen baterai terbesar dunia. Targetnya adalah Indonesia bisa menjadi salah satu pemain 3 besar produsen baterai kendaraan listrik dunia pada tahun 2027.

Produksi baterai kendaraan listrik siap dimulai pada 2025 mendatang. Sedangkan mulai tahun depan ekosistem baterai listrik dari hulu ke hilir juga mulai dibangun. Mulai dari pertambangan bekerja sama dengan PT Aneka Tambang, smelter dengan Indonesia Battery Corporation, hingga pembuatan prekursor, katoda, baterai cell sampai recycle. Ini akan menjadi satu-satunya ekosistem baterai listrik di dunia. Selain itu proses produksinya pun sebisa mungkin menggunakan green energy dan berkelanjutan.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, juga mengatakan pengembangan ekosistem EV di Indonesia akan melibatkan perusahaan asing dan BUMN. Setidaknya ada 4 perusahaan yang berencana berinvestasi yaitu LG, CATL, Foxconn, dan BritishVolt. Selain itu juga akan didukung oleh empat wilayah di Indonesia timur yang bakal menjadi pusat pabrik baterai kendaraan listrik.

Bagaimana daya dukung pasokan nikel dalam negeri?

Indonesia memiliki sumber daya nikel yang cukup besar dan potensial untuk mengejar target pemerintah menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar.

Melansir data U.S Geological Survey (USGS) 2021, Indonesia menjadi negara dengan produksi nikel terbesar di dunia yaitu mencapai angka 1 juta metrik ton atau 37,04% di dunia. Berdasarkan data Kementerian ESDM pada 2020, Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia. Umur cadangan bijih nikel Indonesia juga disebutkan bisa mencapai 73 tahun.

Tambang nikel tersebar di tujuh provinsi yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Tambang di Maluku Utara adalah salah satu basis tambang nikel yang berperan besar terhadap ekonomi Indonesia 

Pertambangan itu pun didukung dengan adanya smelter untuk mengolah nikel. Dilansir dari Investor.id, ada 48 proyek smelter nikel yang ditargetkan seluruhnya dapat beroperasi pada tahun 2024. Proyek-proyek tersebut berlokasi di Banten, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara.

Tantangan dan peluang merajai industri baterai EV

Melihat data besarnya produksi nikel dan kesiapan pemerintah dalam menyiapkan produksi, maka mimpi menjadi top produsen baterai EV dunia cukup masuk akal. Apalagi secara global kendaraan listrik dipersiapkan untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil. Peluang ini dimanfaatkan para investor dunia, setidaknya ada empat perusahaan yang memiliki rencana investasi di Indonesia untuk mendukung pengembangan EV yaitu LG, CATL, Foxconn, dan BritishVolt. Hal ini dibenarkan oleh pemerintah bahwa Indonesia sudah dimulai dengan melibatkan perusahaan asing dan BUMN, termasuk Pertamina.

Lalu bagaimana dengan persaingan pasar baterai EV itu sendiri?

Ternyata Indonesia masih harus menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan Malaysia, Filipina dan Thailand. Namun demikian, Indonesia masih dipandang seksi oleh pemain global EV sebagai EV Battery Production Hub di kawasan Asia Tenggara. 

Kapasitas produksi baterai pada 2024 akan mencapai 10 Giga Watt hour (GWh) yang dapat menghasilkan produksi ratusan ribu mobil listrik dan jutaan sepeda motor listrik. Indonesia diprediksi akan mengalami puncak produksi pada 2025-2026. Saat itu Indonesia seharusnya bisa memproduksi baterai secara massal dengan bahan baku produk nikel olahan dari dalam negeri. 

Kesimpulan

Mobil listrik memang membantu mengurangi pencemaran udara hingga 4,6 ton metrik gas rumah kaca. Itu memang lebih baik dari mobil BBM namun proses pengadaan listriknya juga tidak bisa diabaikan. Sementara itu penambangan nikel juga memiliki dampak buruk terhadap lingkungan. Diprediksi, jumlah penambangan nikel juga akan meningkat dengan semakin tingginya permintaan EV. 

Pasokan listrik untuk  proses produksi maupun membangun ekosistem kendaraan listrik juga perlu diperhatikan. Sebab Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memperkirakan pada tahun 2025 nanti konsumsi bijih nikel RI diperkirakan bisa melonjak hingga 400 juta ton per tahun. Pasalnya,  50 persen dari listrik di Indonesia dihasilkan melalui PLTU  yang merupakan pencemar terbesar. Belum bisa dipastikan apakah suplai listrik dari energi terbarukan akan mampu menopang ambisi ini. Sebab, tujuan mulia untuk menyelamatkan bumi jangan sampai menjadi bumerang.

 

Leave a Comment

Close
Maximize
Page:
...
/
0
Please Wait
...
Second
Code: